berakhir tanggal 8 november 2013

Persepsi Perawat Terhadap Prinsip Perawatan Atraumatik Pada Anak Di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan

A. Latar Belakang Persepsi Perawat Terhadap  Prinsip Perawatan Atraumatik  Pada Anak Di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang apa yang kita inginkan, orang lain tahu maksud kita. Kenyataannya, tidak semua orang yang kita harapkan mengert i, Begitu juga berhadapan dengan pasien, dan yang perlu kita tanyakan apakah yang dimaksud pasien sama yang kita pikirkan. Karena persepsi yang salah dapat menyebabkan seseorang menjadi tegang, tidak suka, tidak nyaman, dan tidak puas, oleh karena itu kita perlu memahami persepsi (Mustikasar, 2006). Seorang perawat adalah individu yang bertanggung jawab dan berwewenang memberikan pelayanan keperawatan, akan tetapi memiliki persepsi yang berbeda. Karena persepsi dapat dipengaruhi oleh individu yang bersangkutan, sasaran persepsi dan situasi (Siagian, 2004). Apabila seorang perawat memiliki persepsi yang positf, maka perawat juga akan bersikap dan berperilaku yang positif dalam memberikan asuhan keperawatan (Satiadarma, 2001). Salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi perawat pelaksana dalam asuhan keperawatan adalah tersedianya sarana dan prasarana yang dapat memperlancar kegiatan keperawatan seperti peralatan medik (obat-obatan, set infus, kateter), peralatan keperawatan (materi pencegahan infeksi, pencegahan trauma), dan peralatan pendukung keperawatan (Herymrt, 2008).

Hospitalisasi pada anak merupakan proses karena suatu alasan yang berencana atau darurat mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangan kembali kerumah. Selama proses tersebut, anak dapat mengalami berbagai kejadian yang menunjukkan pengalaman yang sangat trauma dan penuh dengan stres (Nursalam, 2005). Tindakan yang dilakukan dalam mengatasi masalah anak, apapun bentuknya harus berlandaskan pada prinsip atraumatik care atau asuhan yang terapuetik karena bertujuan sebagai terapi bagi anak. Perawatan atraumatik pada anak tidak terlepas dari peran serta orang tua (Supartini, 2004). Sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh Hanna dan Sherlock (1989) menyebutkan bahwa 90 % anak yang berusia 4 sampai 11 tahun menginginkan orang tua mereka menemani selama proses perawatan di rumah sakit (Wong, 2002). Hasil penelitian dari Sherlock (1990) dalam Supartini (2007) menunjukkan bahwa lingkungan rumah sakit yang dapat menimbulkan trauma pada anak adalah lingkungan fisik rumah sakit, tenaga kesehatan baik dari sikap maupun pakaian putih, alat-alat yang digunakan dan lingkungan sosial antar sesama pasien. Dengan adanya stresor tersebut, distres yang dapat dialami anak adalah gangguan tidur, pembatasan aktivitas, perasaan nyeri, dan suara bising sedangkan distres psikologis mencakup kecemasan, takut marah, kecewa, sedih, malu, dan rasa bersalah.
Lingkungan fisik dan psikososial rumah sakit dapat menjadi stresor bagi anak untuk menimbulkan trauma. Prinsip dasar dari perawatan atraumatik yang harus dimiliki oleh setiap perawat anak terdiri dari 5 komponen yang meliputi menurunkan atau mencegah perpisahan dari keluarga, meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak, mencegah atau mengurangi cedera dan nyeri, tidak melakukan kekerasan pada anak dan modifikasi lingkungan fisik. Selain itu perilaku petugas dan ruangan perawatan anak tidak dapat disamakan seperti orang dewasa (Hidayat, 2005). Oleh karena itu perlunya peran serta perawat dan persepsi yang baik terhadap perawatan atraumatik yang bertujuan untuk tidak terjadinya trauma pada anak baik fisik maupun psikis (Supartini, 2004). Dari hasil penelitan yang dilakukan oleh (Sitio, 2008) menyebutkan bahwa 11 orang (44%) perawat memiliki persepsi yang baik dan 14 orang (56%) perawat yang memiliki persepsi cukup baik terhadap keterlibatan orang tua dalam perawatan anak yang merupakan salah satu prinsip perawatan atraumatik pada anak. Rumah Sakit Umum Dr.Pirngadi Medan merupakan salah satu rumah sakit yang memberikan pelayanan keperawatan anak, dari hasil wawancara pada 4 orang anak berumur 5-7 tahun yang di rawat di ruang III dan diperoleh mereka merasa takut dan terasa sakit ketika diberikan tindakan medis misalnya pemberian obat melalui injeksi, pembersihan luka, dan lain-lain. Hal ini menunjukkan mereka masih mengalami trauma fisik dan psikis. Berdasarkan uraian diatas, peneliti merasa tertarik untuk menelit i bagaimana persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak di ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan yang merupakan salah satu rumah sakit rujukan di kota Medan.

B. Pertanyaan Penelitian
Bagaimana persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak di Ruang III RSU Dr. Pirngadi Medan.

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat / skripsi dengan judul Persepsi Perawat Terhadap Prinsip Perawatan Atraumatik Pada Anak Di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://www.amrimri.com/2013/04/persepsi-perawat-terhadap-prinsip.html. Jangan lupa share ke teman-teman ya.
berakhir tanggal berakhir tanggal
Ditulis oleh: admin - Thursday, April 25, 2013